Indonesia, salah satu
negara yang ada di dunia, yang diakui sebagai paru-paru dunia, memiliki
berbagai ragam karakteristik didalamnya. Dengan jumlah 34 provinsi, 98 kota,
dan 416 kabupaten, sangat memungkinkan untuk memiliki banyak ruang untuk populasi
manusia akan terus bertambah.
Badan Pusat Statistik
(BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk
Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Data BPS menunjukkan, dari total tersebut,
penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa sementara perempuan sebanyak 126,8
juta jiwa. Dengan jumlah populasi laki-laki lebih banyak, diharapkan agar
pengangguran di Indonesia akan lebih sedikit.
Awal era reformasi,
Soeharto, presiden yang paling lama mengabdi untuk Indonesia, akhirnya turun
dengan penuh paksaan dan tuntutan dari banyak kalangan. Ya, Indonesia memanglah
negara yang mengataskan segala keputusan berdasarkan keinginan rakyat. Era ini
berawal dengan banyak demo yang mengatasnamakan warga Indonesia. 1998 memang
penuh makna.
Lalu, apa yang terjadi
pada saat ini, saat essay ini tertulis, 2016? Indonesia semena-mena. Masyarakat
kami gila akan kemerdekaan. Bukan kemerdekaan bangsa, tapi kemerdekaan hak
asasi manusia. Semua orang mengandalkan HAM dan menyalahgunakannya di negara
ini.
Ide membangun generasi
emas sering dibicarakan dalam berbagai peristiwa. Ada yang dalam rangka
hari pendidikan nasional, ada yang dalam bentuk sambutan, seminar-seminar
nasional di kota Metropolitan Jakarta dan di kalangan praktisi pendidikan.
Tetapi itu hanya sebatas wacana-wacana dan harapan di dalam sebuah ruangan
sumbang pikiran dan harapan. Membangun generasi emas adalah sebuah konsep
penerapan untuk menyiapkan suatu generasi penerus bangsa Indonesia pada 100
tahun emas Indonesia merdeka 1945 – 2045.
Kita pasti sangat setuju
dengan konsep membangun generasi emas Indonesia, tetapi generasi emas Indonesia
yang mana? Apakah hanya yang di Pulau Jawa saja? Bagaimana dengan membangun
generasi emas di daerah-daerah lain? Hal ini belum tentu bisa dijawab di dalamnya
setelah pidato Menteri Pendidikan, sambutan ketua Partai Golkar maupun dalam
seminar dan diskusi dengan para peserta seminar. Sebab membangun generasi emas
adalah sebuah konsep penerapan dan perlu realisasi. Untuk itu, sejauhmana
konsep membangun generasi emas dimasukkan ke dalam kurikulum terbaru 2013 dan
dalam terapan model pembelajaran pada pendidikan formal pada semua jenjang
pendidikan, dari PAUD hingga Perguruan Tinggi maupun pada peningkatan melalui
pendidikan non formal.
Berdasarkan cita-cita
membangun generasi emas Indonesia di atas, memberi beban dan tanggungjawab
tersendiri sebagai praktisi pendidikan untuk turut serta berusaha bersama
dengan pemerintah untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk
indonesia. Hal yang dapat dilakukan adalah memberikan pencerahan dengan menulis
sebuah konsep dan motivasi kepada generasi muda dan orang Sentani untuk
membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia. Kita sadar, bahwa
kalau kita menunggu hingga konsep membangun generasi emas dari pusat
pemerintahan republik Indonesia tiba di lingkungan masyarakat Sentani, itu
membutuhkan waktu dan tidak jelas kapan dapat direalisasikan. Itu sebabnya,
dengan memiliki beban tersendiri untuk membangun secara khusus generasi emas Sentani
di Papua untuk Indonesia, maka buku ini coba digarap untuk langsung disajikan
kepada masyarakat Sentani secara umum dan secara khusus kepada generasi muda
Sentani. Dengan harapan, ketika buku ini sampai kepada anak-anak Sentani atau
siapapun, mereka dapat membaca buku ini dan menangkap maksud dari membangun
generasi emas Indonesia dalam konteks generasi emas Sentani. Dengan demikian,
generasi muda Sentani bisa memposisikan diri sesegera mungkin dengan baik dalam
menyiapkan diri sebagai generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia dalam
berbagai hal yang akan disajikan dalam buku ini.
Seperti apa sosok
Indonesia pada 2045, saat berusia seabad nanti? Dalam ceramahnya, Gita
Wirjawan, yang kini menjabat sebagai Menteri Perdagangan RI, mengatakan bahwa,
pada milenium pertama leluhur kita bisa membangun Candi Borobudur yang
merupakan candi terbesar di dunia, dan pada milenium kedua Kerajaan Majapahit
merupakan pelaku penting dalam percaturan dunia. Memasuki milenium ketiga, apa
yang bisa diperbuat Indonesia? Apakah Indonesia akan dilirik negara lain hanya
sebagai negara yang kaya sumber daya alam untuk dieksploitasi, atau sebagai
negara berpenduduk banyak dan merupakan pasar potensial bagi produk-produk
mereka?
Dalam dokumen Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun
oleh Menko Perekonomian, dicanangkan bahwa pada 2025 Indonesia menjadi negara
mandiri, maju, adil, dan makmur berpendapatan per kapita sekitar 15.000 dollar
AS. Saat itu, Indonesia diharapkan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia.
Lebih jauh, pada 2045 Indonesia diproyeksikan menjadi satu dari tujuh kekuatan
ekonomi di dunia dengan pendapatan per kapita 47.000 dollar AS! Namun, yang
dimaksud negara maju dalam dokumen MP3EI adalah negara yang pertumbuhan
ekonominya positif dan tingkat inflasinya menurun. Apakah masyarakat dan
kehidupannya juga maju atau beradab sama sekali tidak disinggung sama sekali.
Salah satu argumen yang
digunakan dalam perumusan MP3EI itu adalah statistik penduduk kita. Konon dalam
kurun 2015-2045 piramida penduduk Indonesia akan sangat ideal dengan penduduk
mayoritas berusia 25-45 tahun, usia produktif. Indonesia saat itu akan
menikmati apa yang disebut jendela demografi. Masalahnya, seperti apa kualitas
mereka, penduduk usia produktif itu, kelak? Sebagai ilustrasi, memasuki AFTA
2016, para insinyur perlu mengantongi sertifikasi untuk dapat melaksanakan
tugas keinsinyurannya di wilayah Asia. Berapa banyak insinyur kita yang telah
tersertifikasi saat ini? Tidak lebih dari 100 orang. Pada saat yang sama,
jumlah insinyur Singapura yang telah tersertifikasi mencapai ribuan. Dalam
situasi seperti ini, para insinyur kita hanya akan menjadi operator atau
asisten insinyur asing yang kelak beroperasi di Indonesia. Jadi, bila demikian,
pembangunan oleh siapa dan untuk siapa?
Kita tentu tak ingin
jadi pembantu di rumah sendiri. Namun, kita lihat banyak kasus yang terjadi
saat ini di negara kita (perpajakan, politik uang, permainan APBN, dan
lain-lain) dengan pelakunya masih berusia 30-45 tahun. Kita bertanya, dapatkah
kita mengelola negara sendiri? Kita juga menyaksikan masyarakat kita yang suka
menerabas, tidak peduli lingkungan, bekerja asal-asalan, berpikir jangka
pendek, dan seterusnya. Pendidikan macam apa yang mereka dapat sebelumnya?
Singkat kata, di era kehidupan modern ini, intelektualitas dan budaya
masyarakat kita masih terbelakang. Bila kita ingin jadi negara maju dan
beradab, banyak pekerjaan rumah yang perlu kita garap, terutama mencerdaskan
kehidupan bangsa yang hingga kini belum terwujud. Kuncinya adalah pendidikan,
pendidikan, dan pendidikan! Bila kita tak menggarapnya dengan baik, kita akan
tenggelam bukan sekadar tertinggal.
Indonesia 2045 masih 29
tahun lagi, so what? Saat itu, sebagian dari kita, khususnya yang berusia separuh
baya, mungkin sudah tiada. Namun, sesungguhnya, Indonesia 2045 ada di depan
mata kita sekarang. Anak-anak berusia balita hingga remaja tersebar di sekitar
kita. Ada yang sedang belajar, ada yang asyik bermain, ada pula yang mengamen
di perempatan jalan. Merekalah yang akan memimpin bangsa ini kelak di berbagai
lini! Indonesia 2045 ada di depan mata, jangan disia-siakan! Pendidikan di
sekolah, rumah, dan di luar rumah akan sangat menentukan. Peran kita semua
diperlukan mendidik dan mengarahkan mereka guna mewujudkan Indonesia 2045 yang
kita idamkan. Nasib Indonesia di awal milenium ketiga ditentukan oleh anak-anak
kita, dan kita semua turut bertanggung-jawab menyiapkannya.
NB : Tulisan ini sengaja dibuat capslock biar semangat wkwk
By : Asmi Afdilla _ 165150401111042 _ c24 _ k33