Jumat, 18 November 2016

INDONESIA EMAS? KUYLAH 29 TAHUN LAGI!

Indonesia, salah satu negara yang ada di dunia, yang diakui sebagai paru-paru dunia, memiliki berbagai ragam karakteristik didalamnya. Dengan jumlah 34 provinsi, 98 kota, dan 416 kabupaten, sangat memungkinkan untuk memiliki banyak ruang untuk populasi manusia akan terus bertambah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Data BPS menunjukkan, dari total tersebut, penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa sementara perempuan sebanyak 126,8 juta jiwa. Dengan jumlah populasi laki-laki lebih banyak, diharapkan agar pengangguran di Indonesia akan lebih sedikit.
Awal era reformasi, Soeharto, presiden yang paling lama mengabdi untuk Indonesia, akhirnya turun dengan penuh paksaan dan tuntutan dari banyak kalangan. Ya, Indonesia memanglah negara yang mengataskan segala keputusan berdasarkan keinginan rakyat. Era ini berawal dengan banyak demo yang mengatasnamakan warga Indonesia. 1998 memang penuh makna.
Lalu, apa yang terjadi pada saat ini, saat essay ini tertulis, 2016? Indonesia semena-mena. Masyarakat kami gila akan kemerdekaan. Bukan kemerdekaan bangsa, tapi kemerdekaan hak asasi manusia. Semua orang mengandalkan HAM dan menyalahgunakannya di negara ini.
Ide membangun generasi emas sering dibicarakan dalam berbagai peristiwa. Ada yang dalam rangka  hari pendidikan nasional, ada yang dalam bentuk sambutan, seminar-seminar nasional di kota Metropolitan Jakarta dan di kalangan praktisi pendidikan. Tetapi itu hanya sebatas wacana-wacana dan harapan di dalam sebuah ruangan sumbang pikiran dan harapan. Membangun generasi emas adalah sebuah konsep penerapan untuk menyiapkan suatu generasi penerus bangsa Indonesia pada 100 tahun emas Indonesia merdeka 1945 – 2045.
Kita pasti sangat setuju dengan konsep membangun generasi emas Indonesia, tetapi generasi emas Indonesia yang mana? Apakah hanya yang di Pulau Jawa saja? Bagaimana dengan membangun generasi emas di daerah-daerah lain? Hal ini belum tentu bisa dijawab di dalamnya setelah pidato Menteri Pendidikan, sambutan ketua Partai Golkar maupun dalam seminar dan diskusi dengan para peserta seminar. Sebab membangun generasi emas adalah sebuah konsep penerapan dan perlu realisasi. Untuk itu, sejauhmana konsep membangun generasi emas dimasukkan ke dalam kurikulum terbaru 2013 dan dalam terapan model pembelajaran pada pendidikan formal pada semua jenjang pendidikan, dari PAUD hingga Perguruan Tinggi maupun pada peningkatan melalui pendidikan non formal.
Berdasarkan cita-cita membangun generasi emas Indonesia di atas, memberi beban dan tanggungjawab tersendiri sebagai praktisi pendidikan untuk turut serta berusaha bersama dengan pemerintah untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk indonesia. Hal yang dapat dilakukan adalah memberikan pencerahan dengan menulis sebuah konsep dan motivasi kepada generasi muda dan orang Sentani untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia. Kita sadar, bahwa kalau kita menunggu hingga konsep membangun generasi emas dari pusat pemerintahan republik Indonesia tiba di lingkungan masyarakat Sentani, itu membutuhkan waktu dan tidak jelas kapan dapat direalisasikan. Itu sebabnya, dengan memiliki beban tersendiri untuk membangun secara khusus generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia, maka buku ini coba digarap untuk langsung disajikan kepada masyarakat Sentani secara umum dan secara khusus kepada generasi muda Sentani. Dengan harapan, ketika buku ini sampai kepada anak-anak Sentani atau siapapun, mereka dapat membaca buku ini dan menangkap maksud dari membangun generasi emas Indonesia dalam konteks generasi emas Sentani. Dengan demikian, generasi muda Sentani bisa memposisikan diri sesegera mungkin dengan baik dalam menyiapkan diri sebagai generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia dalam berbagai hal yang akan disajikan dalam buku ini.
Seperti apa sosok Indonesia pada 2045, saat berusia seabad nanti? Dalam ceramahnya, Gita Wirjawan, yang kini menjabat sebagai Menteri Perdagangan RI, mengatakan bahwa, pada milenium pertama leluhur kita bisa membangun Candi Borobudur yang merupakan candi terbesar di dunia, dan pada milenium kedua Kerajaan Majapahit merupakan pelaku penting dalam percaturan dunia. Memasuki milenium ketiga, apa yang bisa diperbuat Indonesia? Apakah Indonesia akan dilirik negara lain hanya sebagai negara yang kaya sumber daya alam untuk dieksploitasi, atau sebagai negara berpenduduk banyak dan merupakan pasar potensial bagi produk-produk mereka? 
Dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian, dicanangkan bahwa pada 2025 Indonesia menjadi negara mandiri, maju, adil, dan makmur berpendapatan per kapita sekitar 15.000 dollar AS. Saat itu, Indonesia diharapkan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia. Lebih jauh, pada 2045 Indonesia diproyeksikan menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi di dunia dengan pendapatan per kapita 47.000 dollar AS! Namun, yang dimaksud negara maju dalam dokumen MP3EI adalah negara yang pertumbuhan ekonominya positif dan tingkat inflasinya menurun. Apakah masyarakat dan kehidupannya juga maju atau beradab sama sekali tidak disinggung sama sekali.
Salah satu argumen yang digunakan dalam perumusan MP3EI itu adalah statistik penduduk kita. Konon dalam kurun 2015-2045 piramida penduduk Indonesia akan sangat ideal dengan penduduk mayoritas berusia 25-45 tahun, usia produktif. Indonesia saat itu akan menikmati apa yang disebut jendela demografi. Masalahnya, seperti apa kualitas mereka, penduduk usia produktif itu, kelak? Sebagai ilustrasi, memasuki AFTA 2016, para insinyur perlu mengantongi sertifikasi untuk dapat melaksanakan tugas keinsinyurannya di wilayah Asia. Berapa banyak insinyur kita yang telah tersertifikasi saat ini? Tidak lebih dari 100 orang. Pada saat yang sama, jumlah insinyur Singapura yang telah tersertifikasi mencapai ribuan. Dalam situasi seperti ini, para insinyur kita hanya akan menjadi operator atau asisten insinyur asing yang kelak beroperasi di Indonesia. Jadi, bila demikian, pembangunan oleh siapa dan untuk siapa?
Kita tentu tak ingin jadi pembantu di rumah sendiri. Namun, kita lihat banyak kasus yang terjadi saat ini di negara kita (perpajakan, politik uang, permainan APBN, dan lain-lain) dengan pelakunya masih berusia 30-45 tahun. Kita bertanya, dapatkah kita mengelola negara sendiri? Kita juga menyaksikan masyarakat kita yang suka menerabas, tidak peduli lingkungan, bekerja asal-asalan, berpikir jangka pendek, dan seterusnya. Pendidikan macam apa yang mereka dapat sebelumnya? Singkat kata, di era kehidupan modern ini, intelektualitas dan budaya masyarakat kita masih terbelakang. Bila kita ingin jadi negara maju dan beradab, banyak pekerjaan rumah yang perlu kita garap, terutama mencerdaskan kehidupan bangsa yang hingga kini belum terwujud. Kuncinya adalah pendidikan, pendidikan, dan pendidikan! Bila kita tak menggarapnya dengan baik, kita akan tenggelam bukan sekadar tertinggal.
Indonesia 2045 masih 29 tahun lagi, so what? Saat itu, sebagian dari kita, khususnya yang berusia separuh baya, mungkin sudah tiada. Namun, sesungguhnya, Indonesia 2045 ada di depan mata kita sekarang. Anak-anak berusia balita hingga remaja tersebar di sekitar kita. Ada yang sedang belajar, ada yang asyik bermain, ada pula yang mengamen di perempatan jalan. Merekalah yang akan memimpin bangsa ini kelak di berbagai lini! Indonesia 2045 ada di depan mata, jangan disia-siakan! Pendidikan di sekolah, rumah, dan di luar rumah akan sangat menentukan. Peran kita semua diperlukan mendidik dan mengarahkan mereka guna mewujudkan Indonesia 2045 yang kita idamkan. Nasib Indonesia di awal milenium ketiga ditentukan oleh anak-anak kita, dan kita semua turut bertanggung-jawab menyiapkannya.


NB : Tulisan ini sengaja dibuat capslock biar semangat wkwk

By : Asmi Afdilla _ 165150401111042 _ c24 _ k33